25 Februari 2010

Negara Berkembang Bakal Jadi Pembuangan Sampah Elektronik

Penjualan barang elektronik yang terus melonjak hingga satu dekade mendatang diperkirakan akan terjadi di negara-negara berkembang dalam 10 tahun ke depan. Meningkatnya penjualan, tentu saja berdampak pada penumpukan sampah elektronik yang membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia.

United Nations Environmental Program (UNEP) mengingatkan agar negara-negara berkembang mengantisipasi ancaman bahaya sampah elektronik. Negara-negara berkembang akan menjadi tempat pembuangan sampah yang dilakukan negara-negara maju.

"Saat ini dunia sedang menghadapi gelombang dahsyat serbuan sampah elektronik, khususnya di negara-negara berkembang," ujar Achim Steiner, UNEP Executive Director.

Steiner mengungkapkan, sampah elektronik per tahun mencapai 36 juta metrik ton. Jumlah sampah elektronik yang berasal dari komputer bekas juga diketahui akan melonjak empat kali lipat di tahun 2020.

UNEP juga mengungkapkan bahwa China memberikan kontribusi sebesar 2,6 juta metrik ton sampah elektronik ke seluruh penjuru dunia. sedangkan Amerika Serikat berada di urutan kedua dengan 3 juta metrik ton sampah elektronik.

Selain itu, diketahui sejumlah negara di Amerika dan Eropa mengirimkan sampah berupa komputer-komputer bekas ke negara-negara di Afrika. Tak hanya itu, laporan tersebut juga menyebutkan sampah elektronik yang dalam beberapa tahun ini melonjak drastis disumbang oleh peralatan komunikasi seperti ponsel.

Sementara itu, UNEP menyatakan sampah-samapah elektronik berbahaya seperti kulkas yang mengandung gas chlorofluorocarbons dan hydrochlorofluorocarbon akan meningkat tiga kali lipat di India. (okezone/cellularnews)




1 komentar:

  1. butuh political will dari pemerintah untuk mengangkat potensi wisata bima, selama ini bima hanya sebagai kota singgah wisatawan dari atau menuju lombok - komodo

    http://www.mbojonet.blogspot.com

    BalasHapus

mengatakan....